Pastikan 3 Hal Ini Disertakan dalam Resolusi

 

Gambar Ilustrasi Tahun 2025 - Sumber: Pixabay

Tahun telah berganti. 2024 telah berakhir, digantikan dengan 2025. Beberapa lokasi wisata ramai dikunjungi. Di beberapa halaman rumah orang-orang menyalakan api, lengkap dengan pemanggang; memanggang jagung, ikan, ayam, atau yang lainnya. Bunyi kembang api bersahutan di detik-detik pergantian angka, 2024 menjadi 2025. Cahayanya berpadu di pekatnya langit malam. Tidak seluruhnya, tetapi banyak orang yang bergembira.

Sosial media pun turut ramai. Foto dan video bertebaran. Kalimat-kalimat pun bermunculan. Ada yang memotivasi, ada juga yang mencurahkan isi hati. Selain itu, tidak sedikit juga yang menyusun resolusi, apa yang hendak dilakukan di sepanjang 2025 ini. Dalam menyusun resolusi; ada yang terang-terangan, ada juga yang bergerak dalam diam. Tahun baru semangat baru, begitulah kira-kira.

Bila kembali ke hukum, umat Islam semestinya tidak merayakan tahun baru masehi, yang saat ini berada di angka 2025. Tidak dipungkiri, perayaan tahun baru banyak berisi kegiatan yang sia-sia. Pesta kembang api, meniup terompet, bergadang tanpa manfaat, hingga mengganggu orang yang sedang istirahat. Namun, pergantian tahun bukanlah sesuatu yang buruk. Pergantian tahun mestinya disikapi dengan sesuatu yang baik. Salah satunya yaitu interospeksi. Interospeksi atas apa yang telah dilakukan setahun lalu. Kebaikan dilanjutkan atau bahkan ditingkatkan, sedangkan keburukan disesali dan tidak diulang di tahun-tahun berikutnya.

Mestinya interospeksi tidak harus menunggu pergantian tahun. Begitupun dengan resolusi. Setiap hari interospeksi, apa yang telah dilakukan hari ini. Kemudian, buatlah resolusi dengan melanjutkan dan tambah kebaikan di hari-hari berikutnya. Untuk keburukan yang hari ini telah dilakukan, jangan sampai terulang di hari-hari berikutnya.

Resolusi tahun baru. Menurut Wikipedia, kegiatan ini sebenarnya merupakan tradisi sekuler yang umumnya berlaku di Dunia Barat. Dalam tradisi ini, seseorang akan berjanji untuk melakukan tindakan perbaikan diri dimulai pada saat tahun baru. Saat ini tradisi ini sudah tersebar sangat luas, tidak hanya berlaku di Barat.

Tidak ada salahnya menyusun resolusi di pergantian tahun, karena memperbaiki diri adalah keniscayaan. Seiring bergantinya hari, maka semakin kita memperbaiki diri. Mengenai konten apa saja yang dijadikan resolusi, semuanya kembali ke diri pribadi masing-masing. Hanya saja, ada tiga hal mendasar yang mesti dimasukkan dalam resolusi, apalagi resolusi itu dilakukan pada pergantian tahun.


1.      Kembalikan Hak Orang Lain

Gambar Ilustrasi Tenggat Waktu Pembayaran Utang - Sumber: Pixabay

Manusia adalah makhluk sosial. Artinya, setiap diri pasti membutuhkan orang lain. Kita tidak dapat hidup sendiri. Kita butuh bantuan orang lain. Oleh karenanya, tidak jarang ada hak-hak orang lain yang masih berada di diri kita. Contoh yang paling umum adalah perihal pinjam-meminjam dan utang-piutang. Mulailah berpikir dan berusaha untuk mengembalikan apa yang menjadi hak orang lain. Bila ada barang yang dipinjam, segeralah untuk mengembalikannya. Bila ada uang yang dipinjam, berapapun itu, segeralah untuk mengembalikannya. Bisa jadi sang pemilik sudah membutuhkan, tetapi segan untuk menanyakan. Menanyakan saja segan, apalagi meminta untuk dikembalikan.

Tidak dipungkiri, di zaman sekarang sang pemilik uang atau barang seolah menjadi pengemis ketika meminta barangnya dikembalikan. Hebatnya sang penagih utang hanya terjadi di panggung pertunjukan. Ia datang ke tempat si peminjam dengan membawa beberapa orang dan menyita apa saja yang ada di rumah si peminjam. Peminjam ketakutan, mengemis untuk diberikan tambahan waktu, lalu hanya bisa pasrah dalam keadaan menyedihkan.

Sayangnya di dunia nyata tidak demikian. Apa yang terjadi justru sebaliknya. Tidak semuanya, tetapi banyak terjadi demikian. Si peminjam entah lupa atau sengaja melupakan uang atau barang orang yang masih ada padanya. Ketika ditagih banyak yang mencari alasan. Bahkan, tidak sedikit juga terjadi putusnya pertemanan. Dihubungi tidak bisa, nomor kontaknya diganti, akun media sosialnya diblokir, dan banyak hal lain yang terjadi.

Angka tahun telah berganti. Segera lunasi utang. Bila belum bisa membayar langsung lunas, komunikasikan dengan sang pemilik uang untuk mencicilnya. Saya rasa, banyak sang pemilik uang yang akan senang bila ada iktikad baik dari yang berutang. Barang yang dipinjam segera kembalikan. Jangan ditunda, lalu berharap sang pemilik lupa. Sekecil dan seremeh apapun barang harus tetap dikembalikan.


2.      Berprasangka Baik

Gambar Ilustrasi Possitive Thinking - Sumber: Pixabay

Mulailah untuk berprasangka baik kepada orang lain, terutama orang yang dikenal. Buang semua sifat mudah menaruh curiga. Kita tetap mawas diri, jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi. Namun, bukan berarti mudah menaruh curiga. Apalagi kecurigaan itu tidak berdasar sama sekali. Jangan terlalu mudah menilai, apalagi menghakimi.

Bila orang lain makan di hari Senin, kita tidak boleh langsung menyimpulkan orang itu malas beribadah. Bisa jadi ia bekerja dengan pekerjaan yang menguras tenaga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Memenuhi kebutuhan keluarga hukumnya wajib bagi laki-laki. Sedangkan puasa Senin-Kamis hukumnya sunnah. Namun, apabila nafkah terpenuhi dan puasa sunnah seperti Senin-Kamis juga dijalani, maka itu jauh lebih baik.

Bekerja keras bukan berarti cinta dunia. Bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan yang banyak bukan berarti melupakan akhirat. Bisa jadi mereka sedang berupaya untuk membangun ekonomi keluarganya tanpa mengandalkan warisan. Bisa jadi mereka sedang berusaha untuk membeli atau membangun rumah tanpa harus terjerumus dalam sistem kredit. Lebih-lebih bila kreditnya melalui bank konvensional yang jelas-jelas riba. Sedangkan riba merupakan dosa besar yang salah satu akibatnya Allah dan Rasul-Nya mengumumkan perang kepada pelakunya.

Intinya, kita mesti berprasangka baik kepada orang lain, selama yang dilakukan bukan perbuatan dosa. Kalaupun yang dilakukan adalah perbuatan dosa, kita juga tidak boleh langsung menghakimi. Bisa jadi mereka tidak tahu. Maka, tugas kita adalah meluruskan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung atau melalui perantara. Dalam meluruskan itu juga harus dengan bahasa yang baik. Hindari menyakiti walau niatnya memperbaiki.

Selain berprasangka baik kepada manusia, kita juga harus berprasangka baik kepada Allah. Apapun ketetapan-Nya adalah yang terbaik. Bukan hanya takdir, tetapi juga hukum yang telah Allah tetapkan. Misalnya, haramnya riba. Allah haramkan riba bukan karena ingin mengekang kita, tetapi untuk kebaikan kita. Tidak semua pinjaman uang itu riba. Namun, bila ada istilah bunga pinjaman yang harus dibayar, maka bunga itulah sebenarnya riba. Bila memang perlu pinjaman uang, pinjamlah uang yang syarat pengembaliannya tanpa bunga pinjaman.


3.      Perbaiki Diri

Gambar Ilustrasi Memperbaiki Diri - Sumber: Pixabay

Untuk menjadi orang yang beruntung, kita harus senantiasa memperbaiki diri. Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Hari esok harus lebih baik daripada hari ini. Bila hari ini sudah baik, maka esok hari harus lebih baik lagi. Perbaiki titik-titik mana saja yang kurang. Tidak harus langsung sempurna. Bisa dimulai dari satu atau beberapa hal. Jika konsisten, seiring waktu akan banyak yang telah diperbaiki.

Memperbaiki diri di sini sifatnya umum. Memperbaiki diri bisa menyangkut banyak hal. Jelasnya, kita selalu memperbaiki diri dalam rangka meningkatkan kualitas diri. Memperbaiki diri bisa dalam hal kepribadian, ibadah, dan banyak hal lainnya.

Apa yang telah dilakukan sebelumnya mestinya menjadi cermin untuk melangkah ke titik berikutnya. Kebaikan yang telah dilakukan harus dilanjutkan, bahkan ditingkatkan. Ditingkatkan baik dalam kualitas maupun kuantitas. Adapun kesalahan yang telah dilakukan tidak boleh diulang. Jangan sampai terjatuh di lubang yang sama.

Itulah tiga hal yang mesti disertakan dalam resolusi, yaitu: (1) kembalikan hak orang lain, (2) berprasangka baik, dan (3) perbaiki diri. Tentu saja kembali ditegaskan bahwa resolusi dilakukan setiap waktu. Tidak mesti menunggu pergantian bulan atau bahkan tahun. Terlebih jika mengkhususkan pergantian tahun untuk melakukan resolusi. Karena, resolusi tahun baru sendiri merupakan budaya sekuler Barat yang cikal bakalnya dari budaya Babilonia kuno. Jika hendak melakukan resolusi, lakukan setiap waktu sehingga kualitas diri terus meningkat. Tidak perlu latah dan mengekor budaya orang yang makna asalnya bisa bertentangan dengan keyakinan kita, salah satunya melakukan resolusi harus di pergantian angka tahun.

Tidak ada komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Mohon untuk tidak berkomentar yang menyinggung SARA dan memasukkan link hidup.