![]() |
| Ilustrasi Big Bang - Sumber: Pixabay |
Bahasan tentang
asal-usul alam semesta adalah hal yang menarik. Berbagai hipotesis bermunculan,
namun tidak ada satupun yang memberi kepastian. Semuanya hanya berdasarkan
perkiraan. Walau demikian, semuanya tidak dicetuskan dengan asal-asalan. Banyak
rumus yang digunakan demi menjawab rasa penasaran, bagaimana alam semesta
diciptakan.
Para ilmuwan pun saling
berkompetisi, menciptakan sejumlah teori. Mereka berhipotesis dengan berbagai
argumentasi. Secara meyakinkan memaparkan setiap detail bagaimana proses alam
semesta saat dalam proses penciptaan. Salah satu hipotesis yang masyhur adalah
Teori Dentuman Besar (Big Bang Theory).
Tahun 1922, seorang
ahli fisika dari Rusia, Alexandra Friedman, mencetuskan teori dentuman besar (Big Bang). Ia mendasari hipotesis ini
dengan kenyataan dinamisnya struktur alam semesta. Alam semesta mulanya terdiri
dari massa dan massa jenis yang sangat besar. Lalu, terjadi reaksi inti yang
mengakibatkan massa tersebut meledak dan mengembang dengan sangat cepat.
Ledakan itu sendiri diperkirakan terjadi 13,7 miliar tahun yang lalu.
Seiring waktu,
hipotesis ini didukung dan dikembangkan oleh astronom berkebangsaan Amerika
Serikat yang bernama Edwin Hubble. Ia menyatakan bahwa mulanya bintang-bintang
itu berkumpul di satu titik massa yang kemudian di suatu waktu satu titik massa
itu meledak dan mengembang. Satu titik massa itu dikenal dengan volume nol. Ledakan dahsyat itulah
mengakibatkan bintang-bintang menjauhi bumi dan saling menjauh satu dengan yang
lain.
Sebagian orang
mengaitkan antara Big Bang dengan
keterangan yang ada di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri telah menyinggung
asal mula alam semesta jauh sebelum hipotesis Big Bang digaungkan. Keterangan itu terdapat dalam surat al-Anbiya’
ayat 30 yang artinya,
Apakah
orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya, dahulu
menyatu, kemudian Kami memisahkan keduanya dan Kami menjadikan segala sesuatu
yang hidup berasal dari air? Maka, tidakkah mereka beriman?
Di ayat tersebut
disebutkan bahwa langit dan bumi atau sebut saja alam semesta, dahulunya adalah
satu. Kemudian, di suatu waktu Allah memisahkan antara langit dan bumi. Tentu
saja maksud pemisahan langit dan bumi bukan menjadi dua benda saja, melainkan terdapat
benda-benda lain yang juga terpisah sebagaimana saat ini terdapat miliaran atau
bahkan lebih benda-benda angkasa. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa
alam semesta dulunya adalah satu titik atau benda yang kemudian benda itu
terpecah menjadi banyak bagian di alam semesta yang salah satunya ada bumi yang
kita tinggali.
Terdapat kemipiran
antara Big Bang dengan keterangan
dalam Al-Qur’an surat al-Anbiya’ ayat 30, di antaranya: (1) alam semesta
mempunyai permulaan, (2) alam semesta dahulunya satu, dan (3) di suatu waktu
alam semesta terpecah menjadi banyak benda angkasa seperti sekarang. Namun, antara
Big Bang dan keterangan dalam
Al-Qur’an tidak dapat disamakan secara mutlak. Di dalam Al-Qur’an tidak
disebutkan waktu dan bagaimana peristiwa “pemisahan antara langit dan bumi” itu
terjadi.
Tentu saja berpisahnya
antara langit dan bumi adalah peristiwa yang dahsyat. Bisa saja terjadi hukum
alam di sana, seperti ledakan atau bentuk lainnya. Namun, kita tidak bisa
memastikan bagaimana peristiwanya, walaupun ada kemungkinan terjadi ledakan
yang berimbas pada kepulan asap setelahnya.
![]() |
| Ilustrasi Nebula (Kabut Asap) - Sumber: Pixabay |
Kemudian
Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman
kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan
patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.” (QS
Fushshilat: 12)
Keterangan di surat
al-Anbiya’ ayat 30 dan Fushshilat ayat 12 sama sekali tidak bertentangan.
Keduanya sangat berkaitan. Hanya saja kita tidak dapat memastikan apa yang
terjadi saat itu. Bisa saja terjadi ledakan saat terpisahnya langit dan bumi
yang berakibat adanya kepulan asap setelahnya. Atau, bisa juga terjadi
peristiwa yang lain.
Sebagai tambahan, ada
hipotesis lain terkait dengan langit
masih berupa asap, yaitu hipotesis nebula. Hipotesis ini dikemukakan oleh
Emmanuel Swedenborg tahun 1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant pada 1775,
lalu disempurnakan oleh Pierre Marquis de Laplace.
Namun, sekali lagi
hipotesis ini tidak sepenuhnya bisa dibenarkan. Selain karena kita tidak dapat
memastikan apa yang terjadi, hipotesis nebula lebih terfokus pada proses
pembentukan dan evolusi tata surya, bukan alam semesta secara keseluruhan.
Hipotesis ini juga hanya menjelaskan bahwa tata surya berasal dari awan atau debu
atau bisa juga diartikan sebagai asap, tetapi tidak disebutkan dari mana benda
tersebut berasal.
Berdasarkan keterangan
dari dua ayat Al-Qur’an tersebut (al-Anbiya’ ayat 30 dan Fushshilat ayat 12)
disertai dua hipotesis (Big Bang dan
nebula) dapat disimpulkan bahwa alam semesta memiliki permulaan. Ibarat
manusia, terdapat padanya waktu kapan ia dilahirkan. Hal ini tentu membantah
dengan tegas hipotesis lain yang menyatakan bahwa alam semesta ini memang
terbentuk tanpa fenomena apapun atau tanpa permulaan.
![]() |
| Ilustrasi Alam Semesta - Sumber: Pixabay |
Sebagai umat Islam,
mengimani keterangan di dalam Al-Qur’an adalah keniscayaan. Adapun
hipotesis-hipotesis dari para ilmuwan, cukuplah dijadikan sebagai pengetahuan.
Tidak harus dibenarkan sepenuhnya. Beberapa hal yang mirip, bisa jadi adalah
kebenaran. Teruslah bersemangat dalam menimba ilmu, baik untuk kemaslahatan
dunia dan terlebih untuk baiknya nasib kita di akhirat nanti.



.jpg)
Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Mohon untuk tidak berkomentar yang menyinggung SARA dan memasukkan link hidup.