Alexander Agung, Benarkah Dia Sosok Dzul Qarnain?

Foto hanya ilustrasi - Sumber: Pixabay

Dzul Qarnain, nama yang tidak asing di telinga, khususnya umat Islam. Namanya abadi di dalam Al-Qur’an. Dialah seorang raja yang masyhur dengan wilayah kekuasaannya yang luas. Dia juga yang telah sukses membangun bangunan yang sangat kuat yang sekarang dikenal dengan istilah Dinding Dzul Qarnain atau Dinding Ya’juj-Ma’juj. Disebut Dinding Dzul Qarnain, karena dinding tersebut dibangun olehnya dengan dibantu oleh warga sekitar di dekat gunung di mana Ya’juj dan Ma’juj berada. Disebut juga Dinding Ya’juj-Ma’juj, karena dinding itulah yang mengurung Ya’juj dan Ma’juj sehingga tidak bisa meluaskan kerusakan yang mereka lakukan.

Di Indonesia, nama Dzul Qarnain begitu familiar. Bahkan, barangkali sebagian dari kita ada yang bernama Dzul Qarnain yang di-Indonesia-kan menjadi “Zulkarnain”. Penulis sendiri pernah memiliki teman saat sekolah dulu yang ada Zulkarnain-nya.

Namun, Dzul Qarnain bukanlah nama sebenarnya. Dzul Qarnain adalah gelar atau julukan. Kata “Dzul Qarnain” terbentul dari dua kata, Dzu yang berarti “memiliki” dan al-Qarnain yang berarti tanduk. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Dzul Qarnain berarti “memiliki dua tanduk”. Dari makna tersebut terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa “memiliki dua tanduk” bermakna kekuasaannya yang sangat luas, meliputi timur dan barat dunia. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa dia senantiasa menggunakan helm atau pelindung kepada yang terdapat dua tanduk di ujungnya.

Barangkali ada di antara kita yang bertanya, siapakah sosok Dzul Qarnain itu sebenarnya? Di dalam Al-Qur’an tidak dijelaskan secara detail siapa Dzul Qarnain. Sehingga, tidak sedikit yang mengaitkan Dzul Qarnain dengan tokoh-tokoh tertentu, seperti Koresh pendiri kekaisaran Persia, Alexander Agung dari Makedonia, hingga Akhenaten, Amenhotep IV, atau Amenophis IV dari Mesir.


Foto hanya ilustrasi - Sumber: Pixabay

Dari sekian pendapat, salah satu yang masyhur menyebutkan bahwa Dzul Qarnain sebenarnya adalah Alexander The Great atau Alexander Agung atau disebut juga Iskandar al-Maqduni. Di sini kita sebut saja Alexander Agung. Namun, benarkah Alexander Agung adalah sosok Dzul Qarnain yang disebutkan dalam Al-Qur’an? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita tidak bisa langsung menjawab iya atau tidak. Kita mesti mengumpulkan data-data terkait kedua sosok ini (Dzul Qarnain dan Alexander Agung), baru kemudian menentukan jawabannya.

Berdasarkan data yang terdapat dalam Al-Qur’an, kita bisa menyimpulkan beberapa ciri tentang Dzul Qarnain, di antaranya: (1) penguasa yang adil, (2) raja yang saleh lagi beriman, (3) berilmu, (4) menyeru kepada Allah melalui perjalanan ke timur dan barat, (5) menebarkan manfaat dengan membangun dinding pemisah dengan Ya’juj dan Ma’juj bagi rakyatnya, (6) paham bahasa asing dari kaumnya, (7) tidak tamak akan dunia meskipun wilayah kekuasannya sangat luas, dan (8) senantiasa bersyukur kepada Allah.

Setelah mencermati secara singkat tentang Dzul Qarnain, mari kita sedikit telisik tentang sosok Alexander Agung. Beberapa cirinya antara lain: (1) murid dari Aristoteles, (2) tidak pernah kalah perang, (3) piawai dalam strategi militer dan diplomasi selama masa penaklukannya, (4) berhasil menaklukkan wilayah-wilayah seperti Yunani, Persia, Mesir, dan sebagian Asia Selatan, dan (5) berperan aktif dalam praktik paganisme Yunani.

Dari sekelumit ciri-ciri tersebut, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara Dzul Qarnain dan Alexander Agung, terutama dalam hal keimanan. Dzul Qarnain adalah seorang muslim, beriman kepada Allah. Banyak ayat Al-Qur’an yang membuktikannya. Sedangkan Alexander Agung adalah seorang penganut paganisme Yunani. Pagansme adalah bentuk pemujaan kepada alam dan menyembah banyak dewa. Bahkan, seiring waktu, Alexander Agung mulai percaya bahwa dirinya adalah dewa. Selain itu, guru dari Alexander Agung yaitu Aristoteles tidak diketahui secara pasti agamanya.

Sebenarnya satu hal tersebut sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa Alexander Agung bukanlah sosok Dzul Qarnain. Namun, bila dibandingkan ciri-ciri yang lain, maka perbedaannya semakin mencolok. Misalnya, luasnya kekuasan digunakan Dzul Qarnain demi kemaslahatan, sedangkan Alexander Agung meluaskan kekuasaannya melalui penaklukan. Dzul Qarnain membangun dinding dengan dibantu rakyatnya demi kemaslahatan, sedangkan dalam catatan sejarah tidak ditemukan Alexander Agung membangun dinding yang kuat dan kokoh untuk mengurung kaum perusak (Ya’juj dan Ma’juj), padahal kita tahu catatan sejarah merincikan detail Alexander Agung berikut sepak terjangnya. Bahkan, di beberapa catatan didapati bahwa beberapa wilayah yang ditaklukkannya dinamai sesuai dengan namanya. Salah satunya yaitu Alexandria (al-Iskandariyah) di Mesir. Pertanyaannya, bagaimana bisa sebuah kota saja dinamai dengan namanya sedangkan dinding yang menutup dua gunung tidak pernah terdengar namanya, semisal Dinding Alexander?

Jadi, jelaslah sudah bahwa Dzul Qarnain bukanlah Alexander Agung. Begitupun sebaliknya, Alexander Agung bukanlah Dzul Qarnain. Dzul Qarnain dan Alexander Agung adalah dua orang yang berbeda. Masing-masing punya sejarah yang saat ini bisa kita baca. Masing-masing punya sikap atas kepemimpinannya sebagai raja.


Al-Qur'an - Sumber: Pixabay


Di dalam Al-Qur’an tidak dijelaskan secara detail tentang Dzul Qarnain. Kisahnya didapati pada surah al-Kahfi ayat 83 sampai dengan 99. Tidak detailnya Al-Qur’an mengulas kehidupan Dzul Qarnain, karena memang cukuplah diambil pelajaran dari kisahnya. Cukuplah kita mengambil pelajaran yang terkandung di dalamnya. Adapun penyamaan antara Dzul Qarnain dengan tokoh-tokoh semisal Alexander Agung, Koresh, Akhenaten, dan lainnya hanyalah cocoklogi yang sama sekali tidak benar.


Tidak ada komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Mohon untuk tidak berkomentar yang menyinggung SARA dan memasukkan link hidup.